CHILD PROTECTION
Dukungan Melawan Bullying
28 Juli 2015
Oleh JEFFREY HALL
Gulir untuk membaca lebih lanjut

CERITA BERLANJUT

Secara mengejutkan 50 persen dari siswa berusia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying di sekolah. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Anak-anak ini dapat mengalami bekas luka emosional yang dalam seumur hidupnya. Hal ini mendorong sekelompok mahasiswa untuk memutuskan bahwa sudah saatnya untuk bertindak.

Tahun lalu, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengikuti kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF dengan kegiatan yang difokuskan untuk mengatasi bullying di Indonesia. Kompetisi ini mengundang anak-anak muda di seluruh dunia untuk mengatasi isu-isu lokal yang mendesak dengan memberikan solusi yang inovatif.

Para mahasiswa ini memiliki nasib yang sangat mirip dekat dengan subjek mereka. Salah satu anggota tim Aldila Setiawati pernah mengalami bullying yang parah semasa bersekolah. "Untungnya saya memiliki keluarga yang mendukung saya. Namun saya sering berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat dukungan?" ujarnya.


Terinspirasi dengan pengalaman pribadi mereka, kelompok ini membuat proyek: We Are Siblings (Kita Adalah Saudara). Proyek mereka menghubungkan siswa-siswa yang berisiko mengalami bullying ke berbagai jaringan dukungan yang menggabungkan dukungan nyata dan dukungan dalam jaringan (online). "Kita tahu bullying dapat menghancurkan masa depan anak. Kami pikir jaringan dukungan bisa membantu menghentikan penindasan ini," kata Aldila.

Selain tim lokal dari IPB dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF juga menarik minat enam negara lainnya (termasuk Zambia, Kosovo dan Chili). Seluruhnya ada 45 ide proyek yang inovatif, 33 di antaranya berasal dari Indonesia dengan topik berkisar dari kebersihan hingga keadaan darurat bagi kekerasan.

We Are Siblings adalah salah satu dari dua tim yang menjadi juara dalam kompetisi ini.


Langkah Selanjutnya

Dengan kemenangan yang diraih oleh mahasiswa IPB bersama dengan tim dari Nikaragua  berarti proyek We Are Siblings akan menerima bantuan dari UNICEF untuk melakukan uji coba. Tim mahasiswa IPB sekarang memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide mereka lebih jauh dalam bentuk proyek percontohan.

"Bullying telah mencapai angka epidemi di Indonesia," kata Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Ali Ramly. "Angka-angka ini mengerikan: sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 55 persen siswa laki-laki dan 45 persen siswa perempuan di kelas 7-9 pernah mengalami bullying setidaknya sekali."

"Dan angka-angka mengenai bullying dengan kekerasan sangat mengkhawatirkan," katanya." 8,2 persen dari siswa ini paling sering mengalami bullying dengan cara dipukul, ditendang, didorong, diganggu atau dikunci di dalam ruangan."

"We Are Siblings merupakan langkah penting untuk menemukan cara-cara baru guna mengatasi bullying. Proyek mereka benar-benar sejalan dengan tema Desain Global untuk Tantangan UNICEF - Bagaimana Kita Membangun Hubungan yang Lebih Baik untuk mereka yang Kurang Terhubung? Hal ini penting untuk memastikan tidak ada yang merasa sendirian ketika mereka ditindas.

Sejak meraih kemenangan, tim ini bekerja sama erat dengan UNICEF. We Are Siblings saat ini sedang diujicobakan di daerah Bogor selama 6 bulan. “30 anak dari empat sekolah di daerah Bogor dan sekitarnya berpartisipasi dalam proyek percontohan ini,” kata pemimpin tim Ayendha Kukuh Pangesti. “Kami merangkul siswa, orang tua mereka dan anak muda lainnya.”

Tim ini menyelenggarakan sesi ujicobanya yang pertama pada tanggal 30 Mei dengan semua peserta. Kegiatan ini melibatkan serangkaian kegiatan pelatihan untuk membahas berbagai bentuk bullying dan memperkenalkan para siswa dengan mentor mereka.

"Ini merupakan awal yang baik untuk proyek kami," kata Ayendha. "Kami sekarang telah meluncurkan kegiatan mentoring yang sesungguhnya, baik melalui tatap muka maupun melalui platform digital. Kemajuannya terlihat baik."

Setelah proyek percontohan ini selesai, tim ini berharap untuk bekerja sama dengan mitra guna menyebarluaskan proyek ini ke daerah lain. “Proyek ini tidak akan berhenti sampai di sini. Saya bermimpi proyek kami direplikasikan di berbagai daerah. Begitu banyak anak yang terancam, dan kami harus meraih mereka,” kata Ayendha.

UNICEF akan terus merangkul ide-ide para inovator muda. We Are Siblings mewakili pembangunan penting dalam hal bantuan bagi jutaan anak korban bullying, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: http://wearesiblingsindonesia.org/

Source: Global Student-based Health Survey (GSHS).