Opinions Cerita Tentang Kami Engagement Reports Join Now
Join U-Report, Your voice matters.
CERITA
COP28: Peran Anak Muda dalam Mengarusutamakan Isu Lingkungan serta Hak Anak dalam Pembangunan Berkelanjutan

Conference of the Parties (COP) adalah pertemuan tahunan dimana negara-negara berkumpul untuk membuat rencana aksi iklim. Pertemuan ke-28 yang diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada 30 November hingga 12 Desember 2023. Konferensi tahun ini menjadi ajang penentu bagaimana nasib planet kita kedepannya; salah satunya karena terdapat satu perjanjian global bernama Global Stoctake (GST) yang mana dokumen ini akan membahas secara spesifik tentang peran negara anggota dalam melaksanakan kesepakatan pembangunan berkelanjutan secara global. 

Ada beberapa isu iklim yang dibahas di COP28, salah satunya mengevaluasi sejauh mana pencapaian kemajuan negara-negara menanggulangi pemanasan global – suatu proses yang disebut Global Stocktake (GST). Bukan hanya itu, isu anak dalam krisis iklim cukup menjadi perhatian mengingat, menurut data UNICEF per tahun 2023 sebanyak 2.4 milyar populasi adalah anak dibawah usia 18 tahun di seluruh dunia, dan Indonesia menempati urutan ke 5 dengan jumlah populasi anak sebanyak 82.96 juta. 


Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk usia muda terbesar di dunia, Indonesia mempunyai peranan penting dalam memainkan peran kunci sebagai Agent of Change (Agen Perubahan) untuk isu krisis iklim yang sedang kita alami sekarang. Mewakili suara Indonesia, 3 delegasi Mitra Muda UNICEF Indonesia berkesempatan untuk berpartisipasi pada COP28. Berikut ini adalah cerita advokasi dari Alya, Daffa dan Erwin, menyoroti pentingnya partisipasi pemuda dalam proses pengambilan keputusan terkait perubahan iklim.

Gambar 1. Daffa, Alya dan Erwin berfoto di venue COP28, Dubai, Uni Emirat Arab

Alya

Dimulai dari memimpin gerakan lokal untuk perubahan iklim, "State of Youth Sukabumi," Alya menyadari betapa partisipasi anak-anak dan kaum muda memiliki peranan sentral dalam menentukan arah masa depan perubahan iklim. “Kesempatan untuk dapat berdiskusi dan berdialog langsung di dalam COP28 ini memperdalam pemahaman saya terhadap tantangan iklim global saat ini, sungguh pengalaman yang tak terlupakan!”, ungkap Alya kepada tim U-Report Indonesia.


Alya terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti berpartisipasi dalam berbagai sesi, menjadi panelis, terlibat dalam perundingan informal, dan diwawancarai mengenai peran vital serta perspektif pemuda dalam percakapan global.


Gambar 2.  Alya di COP28

Salah satu momen luar biasa bagi Alya adalah dialog mendalam dengan Kitty van der Heijden, Wakil Direktur Eksekutif Kemitraan UNICEF. Bersama, mereka menjelajahi rincian rumit tentang bagaimana perundingan di COP memengaruhi anak-anak dan isu mendesak tokenisme. Pentingnya suara anak-anak bukan hanya sekadar didengar tetapi dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh dalam proses pengambilan keputusan yang akan membentuk masa depan mereka.

Gambar 3. Alya bersama Kitty van der Heijden

Selain itu, Alya berpartisipasi sebagai panelis dalam sesi “Climate Survival Kit for Children”  oleh UNICEF Australia bersama advokat iklim dari Australia di Pavilion Pemerintah Australia. Sesi ini menyoroti tantangan iklim mendesak yang dihadapi oleh anak-anak di seluruh dunia, terutama di Indonesia dan Australia, menegaskan kebutuhan mendesak untuk memperhatikan anak-anak sebagai kelompok rentan dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.


“Anak-anak di Asia Timur dan Pasifik mengalami berbagai bencana terkait iklim yang seringkali tumpang tindih. Hal ini menempatkan anak-anak, generasi masa depan, dalam situasi yang sangat rentan. Diperlukan pendekatan yang lebih sensitif terhadap anak-anak dalam pembiayaan dan ACE (Action for Climate Empowerment) untuk memberikan anak-anak lebih banyak ruang partisipasi yang bermakna dan inklusif dalam pengambilan keputusan terkait iklim. Dengan melakukan hal ini, pendidikan iklim bagi anak-anak menjadi sangat mendesak." - Alya Sabira, Mitra Muda UNICEF Indonesia

Gambar 4.  Pembicara sesi “Climate Survival Kit for Children”

Bagi Alya, pengalamannya bergabung dalam diskusi COP28 mengajarkannya bahwa memberikan lebih banyak ruang bagi anak-anak dan anak muda dalam proses perundingan adalah kebutuhan yang tak terbantahkan. “Antusiasme dan semangat yang anak muda bawa sangat berharga karena dapat menyuntikkan pandangan segar dan memastikan keputusan yang diambil lebih inklusif dalam mengatasi perubahan iklm.” tutup Alya kepada Tim U-Report Indonesia.



Daffa

Untuk kedua kalinya, Daffa terlibat di dalam COP sebagai aktivis iklim sekaligus advokat muda dalam isu iklim. Ia semakin menyadari betapa pentingnya peran anak muda dalam mengisi ruang-ruang diskusi dan melakukan dialog lintas generasi agar tercipta harmonisasi dalam pembuatan kebijakan yang berkelanjutan. 

Gambar 5. Daffa di COP28.


Bagi Daffa, COP28 menjadi tempat untuk mengembangkan ide dan gagasan, khususnya bagaimana hak-hak anak selanjutnya dapat terpenuhi dalam dialog iklim. Perjalanan-nya dimulai ketika ia bertemu banyak aktivis dan advokat hak anak dalam gerakan iklim. Daffa bersama dengan ARNEC (Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood) mengamplifikasikan pesan kunci dalam mendorong pemerintah untuk memprioritaskan anak dan balita untuk mendapatkan perlindungan dari ancaman krisis iklim. Selain itu, khusus untuk anak, para pemangku kebijakan kembali didorong untuk dapat melibatkan anak dalam pengambilan kebijakan, khususnya kebijakan terkait dengan lingkungan. 


Gambar 6. Panelis di Sri Lanka Paviliun

Selain itu, Daffa juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara di Sri Lanka Paviliun. Disana, ia membagikan pengalamannya sebagai advokat iklim muda dapat mengisi ruang-ruang diskusi dalam pembuatan kebijakan, baik di tingkat internasional, nasional, dan lokal. Daffa juga memberikan beberapa siasat dan langkah yang harus diambil dalam bernegosiasi dengan pembuat kebijakan, agar tujuan yang kita ingin capai dapat terealisasikan dan terlaksana dengan baik. 


“Pembuatan kebijakan umumnya dilakukan oleh para generasi diatas kita dan bukan anak muda, tapi sekarang berbeda, kita punya hak dan kesempatan yang sama untuk bersama-sama duduk dan berunding, untuk menciptakan masa depan yang baik bagi semua.” - Daffa Praditya, Mitra Muda UNICEF Indonesia


Gambar 7. Intervensi dalam High-Level-Meeting 


Di tengah perjalanan COP28, Daffa merasa sangat beruntung dapat bersuara dalam High-Level Meeting yang mana pertemuan tersebut membahas peran dan aksi pemerintah lokal dalam mengintegrasikan aksi iklim di tingkat global dan nasional, khususnya dengan memberdayakan pemuda dalam mengimplementasikan aksi iklim. Sepanjang perjalanan COP ini, ia semakin yakin bahwa kerjasama holistik-integratif antar generasi sangatlah penting untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan dapat menjadi kunci untuk mencapai dunia bebas karbon pada 2060. 



Erwin

Erwin merupakan anak muda yang menginisiasi kegiatan pengurangan risiko bencana dan pendidikan iklim bersama organisasinya serta beberapa kali terlibat dalam respon kebencanaan di Indonesia. Ia berkesempatan menjadi delegasi pada acara Conference of Youth  (COY18) (Conference of Youth) dan COP28. 


Pada tanggal 26-28 November 2023,  Erwin berpartisipasi pada kegiatan COY18, suatu peluncuran Global Youth Statement, yang menjadi salah satu momen penting untuk anak muda dari seluruh dunia mengumpulkan suaranya mengenai urgensi perubahan iklim. Selain itu Erwin mengikuti berbagai side event, workshop, dan sesi wawancara dengan media.




Gambar 8. Delegasi COP

Berjejaring menjadi poin krusial bagi Erwin, di mana ia bertukar gagasan dan praktik baik aksi iklim dengan delegasi anak muda dari seluruh dunia. COY18 menjadi pengalaman tidak terlupakan untuk bertumbuhnya ide dan inovasi dalam menanggapi perubahan iklim.

Tidak hanya berhenti pada COY18, perjalanan Erwin berlanjut pada COP28, Sebagai pengalaman pertamanya di panggung Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim, Erwin berkesempatan untuk berpartisipasi pada side event sebagai pembicara.

Dalam dua sesi side event di COP28, Erwin berdiri sebagai pembicara. Dengan mengisi acara "Meningkatkan Ketahanan melalui Pendidikan Anak Usia Dini" oleh Greening Hub Education, ia membahas peran kritis pendidikan dalam membangun ketahanan masyarakat. Pada acara "Inisiatif Iklim yang Dipimpin Anak Muda" di Columbia Pavilion, Erwin berbagi inspirasi tentang bagaimana pemuda dapat memimpin dalam upaya perubahan positif.

Gambar 9. Erwin Berpartisipasi dalam Side Event di Greening Education Hub

Erwin tidak hanya menyuarakan ide, tetapi juga berusaha memperdalam pemahaman dan keterampilannya melalui kegiatan pengembangan kapasitas. Dari mulai isu Multilevel Action, pendanaan iklim, loss and damage hingga Action for Climate Empowerment, Erwin meraih kesempatan untuk merajut keterampilan yang sesuai dengan minatnya. Selain itu Erwin berkesempatan untuk berdiskusi dengan para ahli di bidang kemanusiaan dan pengurangan risiko bencana.

“Pentingnya pelatihan Pengurangan Risiko Bencana untuk segera meningkatkan kapasitas anak-anak, sambil memberikan pendidikan iklim dan 'keterampilan ramah lingkungan' agar mereka dapat berpartisipasi secara bermakna dan memberikan kontribusi dalam membentuk dunia yang lebih berkelanjutan” - Erwin Mahendra, Mitra Muda UNICEF Indonesia

Bagi Erwin COY18 dan COP28 merupakan perjalanan menggali potensi, berjejaring, dan memberdayakan komunitasnya. Dengan wawasan yang diperoleh dari COY18 dan COP28, Erwin kembali ke komunitasnya sebagai agen perubahan yang lebih matang dan terampil dalam memimpin perubahan positif untuk keberlanjutan dan ketahanan.


Dari cerita Alya, Daffa, dan Erwin dalam partisipasi mereka di COP28, kita dapat melihat bahwa peran anak muda dalam mengatasi krisis iklim sangatlah penting, terlebih lagi dalam proses pengambilan keputusan terkait lingkungan dan iklim di tingkat global. Pengalaman advokasi mereka diharapkan dapat menginspirasi generasi muda dalam turut serta berperan aktif dalam melindungi lingkungan, memperjuangkan hak-hak anak dalam pembangunan berkelanjutan serta bisa menjadi pemimpin yang dapat membawa nasib bangsa dan dunia ini lebih baik kedepannya.

----------------------------------------------------------
Ditulis oleh: Erwin Mahendra Eka Saputra, Daffa Praditya, Alya Sabira (Mitra Muda UNICEF Indonesia)
Diedit oleh Shabrina Dwi Nova


See by the numbers how we are engaging youth voices for positive social change.
EXPLORE ENGAGEMENT
UNICEF logo