GENERAL
Ini Efek Hashtag, #MenstruasiBukanTabu
22 Agu 2017
Oleh VANIA SANTOSO – INNOVATIONS ADOLESCENT AND YOUTH ENGAGEMENT OFFICER
Gulir untuk membaca lebih lanjut

CERITA BERLANJUT

Jakarta, 30 Mei 2017 – “Ini efek hashtag (#MenstruasiBukanTabu)!” demikian celetuk Ikke Nurjanah, Duta Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di awal sesi #AskUReport di Facebook Live U-Report Indonesia yang mengumpulkan hingga 300 pertanyaan lebih tentang menstruasi dari responden di Sumatera hingga Papua, “Mereka mulai tidak tabu untuk bertanya”. Pada hari Selasa, 30 Mei 2017, Ikke menjadi narasumber #AskUReport, sebuah sesi tanya jawab online dari U-Report. U-Report sendiri merupakan wadah advokasi UNICEF Indonesia yang berbasis jajak pendapat ke anak muda Indonesia. Secara berkala, U-Report mengajukan pertanyaan tentang topik tertentu dan mengumpulkan hasil jawaban anak muda untuk dianalisis dan dijadikan rekomendasi agar suara anak muda pun dapat berpengaruh dalam pembuatan kebijakan pemerintah.
Dalam rangka Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia yang diperingati tanggal 28 Mei 2017, U-Report membahas topik menstruasi dengan tagar #MenstruasiBukanTabu selama sepekan dan mengumpulkan pertanyaan untuk dijawab oleh Ikke sebagai tokoh publik yang memiliki kepedulian pada isu sanitasi. Beragam pertanyaan dari aspek perundungan (bullying) yang tak jarang dialami perempuan yang sedang menstruasi, cara membagikan informasi menstruasi, hingga mitos versus fakta menjadi topik bahasan yang informatif.
“Karena saya sudah dapat contekan dari Majelis Ulama Indonesia yang mengeluarkan buku ‘Haid dan Kesehatan menurut Ajaran Islam’, kenapa aku berani bilang tadi (bahwa pembalut) nggak perlu dicuci, ada lho di dalam buku ini dan bisa dibaca” pungkas Ikke saat menanggapi pertanyaan apakah perlu mencuci pembalut setelah dipakai. Ikke mengaku sempat merasa panik saat ditanya tentang menstruasi, “Walaupun akan tahu anak aku akan mens, pas dia bilang ‘Ma, aku mens’ langsung deg! Hehehe,” kenang Ikke. “Approach personal itu harus dipahami. Bapak-bapak jangan ragu untuk bilang, memang ini hal yang biasa, mama dulu begini. Bapak-bapak juga semangat ya, bisa menjelaskan dengan santai. Langsung mukanya tenang, Pak. Jangan stress” ujar Ikke menyemangati para orang tua, baik Ibu maupun Bapak sambil menekankan pentingnya topik menstruasi untuk dipahami baik laki-laki maupun perempuan agar dapat menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung, “Dan kuncinya adalah: tidak apa-apa, dan tidak tabu”.
Dalam sesi yang berlangsung selama 40 menit tersebut, Ikke juga memaparkan hasil jajak pendapat tentang menstruasi yang diadakan oleh UNICEF Indonesia lewat U-Report bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI), didukung Jejaring AMPL, Plan Internasional Indonesia, Wahana Visi Indonesia, SPEAK Indonesia, dan SNV Indonesia. Jajak pendapat tersebut berisi dua sampai tiga pertanyaan yang dibuat berbeda bagi responden perempuan maupun bagi laki-laki. Lebih dari 1.000 U-Reporters (sebutan bagi responden) dari Sumatera hingga Papua yang mengemukakan pendapatnya. “Hanya 20% (U-Reporters laki-laki) berarti yah yang pernah mem-bully temannya (yang sedang menstruasi),” Ikke mengulas kabar baik ini karena ternyata lebih banyak U-Reporters yang sudah sadar dan bisa menghargai teman perempuannya yang sedang mengalami menstruasi. Harapannya, lebih banyak lagi masyarakat yang mau memahami topik menstruasi dan sesuai dengan tagar #MenstruasiBukanTabu itu sendiri, masyarakat pun bisa lebih berani membahas topik menstruasi untuk berbagi informasi yang sesuai fakta.

Link untuk video #AskUReport #MenstruasiBukanTabu bersama Ikke Nurjanah: https://www.facebook.com/UReportindonesia/videos/vb.611917995571772/1342135512550013/?type=2&the...
Link untuk bergabung sebagai U-Reporter: http://bit.ly/ureportindo lalu ketik kata “JawaPos” (tanpa spasi)
Link untuk mengikuti update U-Report: http://fb.com/ureportindonesia


GAMBAR FITUR

Belum ada gambar fitur

CERITA YANG BERHUBUNGAN

INDONESIAN YOUTH JAMBOREE 2016: A FAMILY OF YOUNG LEADERS
LANJUT →
MENEMUKAN INSPIRASI DI LAPANGAN
LANJUT →
PRAMUKA SEBAGAI ANAK-ANAK MUDA YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN
LANJUT →