INNOVATION
Perubahan Iklim: Ayo bertindak!
2 Des. 2017
Oleh EMMANUELA SHINTA
Gulir untuk membaca lebih lanjut

CERITA BERLANJUT

Emmanuela Shinta meluncurkan Youth Act Campaign untuk melawan asap beracun yang mengganggu kehidupan suku asli di tempat asalnya, suku Dayak. Emmanuela berasal dari Kalimantan yang dikenal kaya akan hutan tropis.   

Saya menyaksikan sendiri peristiwa yang disebut oleh sebagian orang sebagai bencana alam terparah abad ke-21: asap beracun yang menyebar di Kalimantan Tengah pada tahun 2015.

Ketika itu, wilayah tempat tinggal saya hancur oleh api. Bayi dan anak-anak menjerit sambil berusaha bernapas. Berlinangan air mata, para ibu membawa anak-anak mereka ke rumah sakit. Sementara itu, para ayah kewalahan mencoba memadamkan api yang melalap kebun dan rumah. Saya ada di sana. Ingatan akan orang-orang yang susah payah mencari udara segar, atau mati akibat udara beracun tanpa ada tempat berlindung dari kungkungan kabut asap tebal tidak bisa dienyahkan. Saya harus melakukan perubahan.

Tekad ini melatari Youth Act Campaign yang secara resmi diluncurkan pada 2 Maret 2016 dengan moto “Kami hanya orang biasa, tapi menolak berpangku tangan”. Kampanye ini menggerakkan anak-anak muda di Kalimantan Tengah untuk secara aktif terlibat melawan kebakaran hutan dan asap beracun yang terjadi setiap tahun selama 20 tahun terakhir.

Keadaan tak mudah, tetapi tidak sulit mengumpulkan sukarelawan. Kami punya pengalaman yang sama dan sudah seumur hidup terpapar asap beracun. Tantangan justru muncul dalam hal pendanaan.

Seiring dengan berkembangnya gerakan ini, upaya difokuskan untuk menggalang kesadaran di Palangkaraya, ibukota Kalimantan Tengah, dan pulau-pulau sekitar. Informasi seputar peristiwa iklim yang secara langsung memengaruhi kehidupan disosialisasikan kepada masyarakat. Kami juga menyelenggarakan seminar, pemutaran film, dan debat di 27 titik di masyarakat, sekolah, serta perguruan tinggi. Keterlibatan anak muda memang sangat ditekankan. Untuk tujuan edukasi dan meyakinkan mereka, beragam testimoni dan wawancara dikumpulkan.

Selain kegiatan untuk menggalang kesadaran tersebut, kami juga melatih 28 sukarelawan muda sebagai Satuan Pemuda Pemadam Kebakaran. Saat ini, mereka sudah mampu melakukan penanganan api dengan cepat, di manapun juga. Kami juga menyelenggarakan layanan untuk membantu korban asap beracun: membagikan peralatan (masker dan tabung oksigen), bekerja sama dengan dokter dan perawat setempat untuk memberikan bantuan medis, dan membangun rumah lindung berkapasitas hingga 40 orang dewasa dan 60 anak-anak.

Dalam kurun satu setengah tahun, sekitar 50 desa, empat kabupaten, dan dua provinsi telah kami datangi. Dari tim beranggotakan 30 orang dan pendanaan mandiri saat kampanye pertama kali diluncurkan, saya bangga dapat mengatakan bahwa kami sekarang memiliki 100 sukarelawan dan didukung oleh donor yang percaya pada misi yang kami emban.

Saya juga mendapat kehormatan mewakili Youth Act Movement di acara nasional maupun internasional. Film dokumenter karya saya tentang kebakaran, asap beracun, dan Youth Act Movement berjudul When Women Fight ditayangkan pada Freedom Film Festival 2016 di Kuala Lumpur dan ASEAN People Forum 2016 di Dili, Timor Leste.

Saya selalu percaya pada “kekuatan rakyat”, terutama generasi muda. U-Report Indonesia adalah platform bagi anak muda bertemu, belajar, dan mengemukakan pendapat. Saya mulai mengetahui U-Report pada April 2017, yaitu ketika kampanye perubahan iklim U-Report berhasil membuat banyak anak muda lebih sadar tentang masalah asap beracun. Semua data yang terhimpun melalui U-Report merupakan “senjata” yang efektif untuk berbicara dengan pemerintah dan pemangku kepentingan secara luas.

Gerakan kami tak akan berhenti sampai Kalimantan Tengah bebas dari kebakaran hutan dan asap beracun. Perubahan iklim itu nyata! Kalimantan, yang dulu merupakan paru-paru dunia, kini menjadi salah satu penyumbang gas CO terbesar. Hal ini berdampak pada saya secara langsung karena di Kalimantan-lah saya lahir dan tinggal, dan di sinilah masyarakat saya, suku Dayak, berada. Suku asli Kalimatan telah begitu lama mengenal dan bergantung pada hutan. Kehilangan hutan sama dengan kehilangan akar budaya dan identitas, dan sebab itulah kami berjuang untuk mempertahankannya.

Emmanuela Shinta, 25 tahun, adalah sutradara dan aktivis. Bakat dan kemampuannya ia gunakan untuk melawan perubahan iklim dan membantu pembentukan gerakan Youth Act Campaign di Indonesia.


GAMBAR FITUR


CERITA YANG BERHUBUNGAN

CHILD’S RIGHTS: HEALTH, PARTICIPATION AND FUN!
LANJUT →
WILL YOUNG PEOPLE’S OPINION BE WORTH FOR POLICY MAKING?
LANJUT →
SUARAKAN PENDAPATMU UNTUK ADOLESCENT SUMMIT 2017!
LANJUT →