CHILD PROTECTION
Anak Muda Ikut Bersama Dalam Peringatan Hari Perempuan Internasional Untuk Menghentikan #PerkawinanAnak
4 April 2018
Oleh GIRLS NOT BRIDES
Gulir untuk membaca lebih lanjut

CERITA BERLANJUT

Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, anak-anak muda di Indonesia berkumpul untuk menyerukan kesetaraan gender dan mengakhiri #PerkawinanAnak, di sebuah negara di mana ada 275 gadis yang menikah setiap harinya. 

Acara yang diselenggarakan oleh Jaringan Aksi Remaja (AKSI), Girls Not Brides, Kedutaan Belanda dan UNICEF, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya memberdayakan anak muda untuk berbicara tentang #PerkawinanAnak

Mabel van Oranje, ketua dari Girls Not Brides, berbicara pada pembukaan acara yang menarik minat luas dari para hadirin.
Masing-masing dan setiap dari kamu dapat membuat perubahan. Ketika kamu bekerja sama dengan pembuat perubahan lainnya, kamu akan dapat melakukan lebih banyak perubahan daripada yang dapat kamu lakukan sendiri.
Mabel berbagi cerita tentang apa yang remaja lain mampu lakukan, bekerja untuk mengakhiri #PerkawinanAnak di negara lain di seluruh dunia. Beliau juga membagikan kiat utamanya untuk menjadi pembuat perubahan, termasuk:
Jangan Pernah Lupa: apa yang orang-orang sebut mustahil, seringkali sepenuhnya bisa terjadi. Dunia tanpa #PerkawinanAnak akan menjadi dunia di mana semua orang - anak laki-laki dan perempuan - akan lebih terdidik, lebih sehat, lebih kaya, dan lebih setara.
 Populasi anak muda yang tumbuh di negara itu memiliki kekuatan untuk mengarahkan masa depan Indonesia ke arah yang baru. Kaum muda berusia 10-24 tahun merupakan seperempat dari penduduk Indonesia, dan 48 juta di antaranya berusia 10-19 tahun. Mengatasi #PerkawinanAnak akan menjadi salah satu kunci untuk membuka potensi mereka. 

Gerakan untuk mengakhiri #PerkawinanAnak sedang dibangun di Indonesia. Misalnya, gerakan pemuda yang didukung Koalisi 18+ telah menyerukan usia minimum perkawinan adalah 18 tahun dan menciptakan dialog nasional seputar #PerkawinanAnak dan isu-isu terkait. Pada Juni 2018, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Muslimah yang menarik perhatian ratusan peserta dari seluruh dunia serta dari negara-negara termasuk Arab Saudi, Kenya, dan Pakistan.

Jajak pendapat terbaru melaporkan bahwa anak muda merasa mereka memiliki peran penting dalam mencegah #PerkawinanAnak. Mereka menginginkan pemerintah untuk berinvestasi dalam mendidik anak muda dan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Beberapa tindakan yang mereka pikir bisa mereka ambil termasuk mendorong kesadaran di kalangan masyarakat umum dan anak muda lainnya. 

Acara ini memberikan platform untuk mengembangkan pesan dan materi komunikasi tentang #PerkawinanAnak.

Rekomendasi dan pesan utama ini disajikan kepada pejabat tingkat tinggi yang hadir, serta dibagikan secara luas dan offline dengan pemangku kepentingan kunci lainnya - masyarakat, rekan, pemerintah daerah, guru dan pemimpin agama - untuk membantu mempengaruhi sikap mereka terhadap #PerkawinanAnak

Indonesia berada di antara sepuluh negara teratas dengan pengantin anak terbanyak di dunia. Sekitar satu dari setiap tujuh gaids di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun, berjumlah lebih dari 1,4 juta perempuan berusia 20-24 tahun di Indonesia hidup yang hidup hari ini pernah menikah ketika menjadi seorang anak. 

GAMBAR FITUR


CERITA YANG BERHUBUNGAN

#GIRLSTAKEOVER: ADOLESCENTS TAKE ACTION TO END CHILD MARRIAGE
LANJUT →