Opinions Cerita Tentang Kami Engagement Reports Join Now
Join U-Report, Your voice matters.
Hari Internet Aman Sedunia - Kenali Cyberbullying dan Cara Mengatasinya

Harassment or bullying, both face-to-face and online is one of the main problems faced by young people. In Manifesto #ENDViolence, young people are committed to taking action to stop harassment and to respect others and be careful when behaving in their environment.


Coinciding with World Safer Internet Day (11 February), UNICEF seeks to support young people in stopping violence inside and outside of school, including online. Over the past few weeks, more than 16,000 young people from various countries have shared questions about cyberbullying.

From these questions, we have selected the top 10 questions that represent their questions. 
We gathered specialists from UNICEF, experts on cyberbullying and child protection, and worked with Facebook, Instagram and Twitter to answer questions and provide advice on how to deal with cyberbullying.

What is cyberbullying ?

(cyber harassment) is bullying / harassment using digital technology. This can happen on social media, chat platforms, gaming platforms, and cellphones. Cyberbullying is a repetitive behavior intended to frighten, anger, or embarrass those who are targeted. Examples include:


·        Spreading lies about someone or posting embarrassing photos about someone on social media

·        Send painful messages or threats through chat platforms, write hurtful words in the social media comment column, or post something embarrassing / painful

·       Mimic or on behalf of a person (eg with a fake account or sign in with an account of a person) and send nasty messages to others on their behalf.


Direct or face-to-face bullying and cyberbullying can often occur simultaneously. But cyberbullying leaves a digital trail - a recording or notes that can be useful and provide evidence when it helps stop this wrong behavior.


-------------------------------------------------- -------------------------------------------------- --------------------------------------


Top 10 questions about cyberbullying


1.     Am I bullied by online? How do we distinguish between jokes / jokes and bullying?

2.     What is the impact of cyberbullying?

3.     Who should I talk to if someone bullies me online? Why is reporting important?

4.     I experienced cyberbullying, but I was afraid to talk to my parents about it. How can I approach them?

5.     How can I help my friend to report a cyberbullying case especially if they don't want to report it?

6.     Browsing online gives me access to lots of information, but that also means I'm open to a variety of possible abuses or wrong behavior. How do we stop cyberbullying without playing the internet? Do we need to stop just accessing the internet or social media?

7.     How can I prevent my personal information from being misused or manipulated on social media? 

8.     Is there a penalty for cyberbullying?

9.     Internet / social media companies don't seem to care about cyberbullying and harassment. Are they actually responsible?

10.  Are there guidelines / tools / tools regarding anti-cyberbullying for children or young people?



1.     Am I being bullied online? How do we distinguish between jokes / jokes and bullying?


UNICEF: All friends like to joke with each other, but sometimes it's hard to say whether someone is just having fun or trying to hurt you, especially when on the internet. Sometimes they will laugh at him saying "just kidding," or "don't take it seriously."


But if you feel hurt or think it seems like they are 'laughing at you' instead of 'laughing with you', then the joke or joke may have gone too far. If that continues even after you ask the person to stop and you still feel upset about it, then this could be bullying.


And when bullying happens online, it can attract unwanted attention from various people including strangers you don't know. Wherever it happens, if you are not comfortable with it, you need to make a defence.


Say what you want - if you feel unhappy and still don't stop, it's a good idea to seek help. Stopping cyberbullying is not only about revealing who are the bullies, but also about emphasizing that everyone has the right to be respected - both in cyberspace and in the real world.


2.     What is the impact of cyberbullying?


UNICEF:  When bullying happens online, you can feel like you are being attacked from everywhere, even in your own home. Looks like there is no way out. The effects can last a long time and affect someone in many ways:


Mentally - feeling upset, embarrassed, stupid, even angry

Emotionally - feeling ashamed or losing interest in things you like

Physically - tired (lack of sleep), or experiencing symptoms such as stomach aches and headaches


Feelings of being ridiculed or harassed by others can make someone not want to discuss or resolve the problem. In extreme cases, cyberbullying can even cause a person to end his own life.


Cyberbullying can affect us in various ways, but surely this problem can be overcome and people who are affected can also regain their self-confidence and mental health.



3.      Who should I talk to if someone bullies me online? Why is reporting important?  


UNICEF: If you feel bullied, the first step that needs to be done is to seek help from someone you trust such as a parent, immediate family member or other trusted adult.


At school, you can contact a teacher you trust such as a BK teacher, sports teacher, or subject teacher.


And if you feel uncomfortable talking to someone you know, call the Child Social Service Phone (TePSA) on the phone number 1500 771, or mobile / Whatsapp number 081238888002 and you can chat with friendly professional counsellors!


If bullying occurs on social media, you can block the perpetrator's account and report their behavior on social media itself. Social media is obliged to maintain the safety of its users.


Gathering and storing evidence can help you later to show what has happened - for example, messages in chat and screenshots of posts on social media.


For bullying to stop, the key is that it needs to be identified and further reported. It can also show bullies that their actions are not acceptable.


If you are in immediate danger, then you should contact the police or emergency services, such as the following:

·       Ambulan: 118 atau 119

·       Polisi: 110

·       Pemadam Kebakaran: 113 atau 1131

·       Badan Search and Rescue Nasional (BASARNAS): 115


Facebook/Instagram: Jika kamu di-bully secara online, kami mendorongmu untuk membicarakannya dengan orang tua, guru, atau seseorang yang kamu percaya – kamu punya hak untuk merasa aman. Melaporkan tindakan bullying secara langsung sangat dimudahkan di Facebook maupun Instagram.


Kamu selalu dapat mengirim laporan (secara anonim) mengenai postingan, komentar, atau story yang tidak menyenangkan di Facebook maupun Instagram.


Facebook maupun Instagram memiliki tim yang selalu melihat laporan-laporan ini selama 24 jam di seluruh dunia dalam lebih dari 50 bahasa, dan postingan apa pun yang bersikap kasar, mengganggu, atau membully akan segera dihapus. Laporan-laporan ini selalu anonim (atau tidak diperlihatkan siapa yang melapor).


Kami punya panduan di Facebook yang dapat mengarahkanmu untuk melalui proses penanganan bullying – atau apa yang harus dilakukan jika kamu melihat seseorang dibully. Di Instagram, kita juga punya Panduan untuk Orang Tua yang memberikan rekomendasi untuk orang tua, wali, dan orang dewasa terpercaya tentang cara menyikapi cyberbullying, dan sebuah central hub  dimana kamu bisa mempelajari tentang perangkat keamanan Instagram.


Twitter: Jika kamu pikir bahwa kamu sedang dibully, hal terpenting adalah memastikan dirimu aman. Sangat penting untuk memiliki seseorang untuk diajak bicara tentang apa yang sedang kamu alami. Bisa saja seorang guru, orang dewasa terpercaya lainnya, atau orang tua. Bicaralah dengan orang tua dan temanmu tentang apa yang harus dilakukan jika kamu (atau seorang teman) sedang mengalami cyberbullying.


Kami mendorong setiap orang untuk melaporkan akun yang melanggar aturan. Kamu bisa melakukan ini melalui halaman Pusat Bantuan atau mengklik pilihan “Laporkan Tweet” pada Tweet seseorang. 



4.     Saya mengalami cyberbullying, tapi saya takut untuk berbicara dengan orang tua saya tentang hal itu. Bagaimana saya bisa mendekati mereka?


Kalau kamu mengalami cyberbullying, berbicara dengan orang dewasa terpercaya – seseorang yang membuatmu merasa aman untuk diajak bicara – adalah salah satu langkah pertama yang paling penting yang dapat kamu lakukan.  


Berbicara kepada orang tua tidak mudah bagi semua orang. Tetapi ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu memulai percakapan. Pilih waktu bicara ketika kamu rasa mereka bisa memberikan perhatian penuh. Jelaskan seberapa serius masalahnya bagi kamu. Ingatlah, mereka mungkin tidak terbiasa dengan teknologi seperti kamu, jadi mungkin kamu perlu membantu mereka untuk memahami apa yang terjadi.


Mereka mungkin tidak memiliki jawaban instan untuk kamu, tetapi mereka cenderung ingin membantu dan bersama-sama denganmu menemukan solusi. Dua kepala selalu lebih baik daripada satu! Jika kamu masih tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan, pertimbangkan untuk menghubungi orang-orang terpercaya lainnya. Seringkali ada lebih banyak orang yang peduli padamu dan bersedia membantu daripada yang mungkin sedang kamu pikirkan!




5.     Bagaimana saya bisa membantu teman saya untuk melaporkan kasus cyberbullying terutama jika mereka tidak mau melaporkannya?


UNICEF: Siapapun bisa menjadi korban cyberbullying. Jika kamu melihat ini terjadi pada seseorang yang kamu tahu, cobalah menawarkan dukungan atau bantuan.


Penting untuk mendengarkan temanmu. Mengapa dia tidak mau melaporkan kasus cyberbullying itu? Bagaimana perasaan dia? Beritahu dia bahwa tidak perlu melaporkan secara formal kepada pihak tertentu, tetapi penting untuk berbicara dengan seseorang yang mungkin bisa membantu.


Ingat, teman kamu mungkin sedang merasa rapuh. Berbaik hatilah kepadanya. Bantu dia memikirkan apa yang harus dikatakan dan kepada siapa. Tawarkan untuk pergi bersama jika mereka memutuskan untuk melapor. Yang paling penting, ingatkan dia bahwa kamu ada untuknya dan ingin membantu.

Jika teman kamu masih tidak ingin melaporkan kejadian itu, maka dukung dia dalam menemukan orang dewasa terpercaya yang dapat membantu mengatasi situasi tersebut. Ingatlah bahwa dalam situasi tertentu dampak dari cyberbullying dapat mengancam nyawa.


Jika kamu hanya diam dan tidak melakukan apa pun, maka temanmu akan merasa semakin tidak dipedulikan. Kata-kata darimu dapat membuat perbedaan pada perasaannya.


Facebook/Instagram: Kami tahu sulit untuk melaporkan seseorang. Tapi, membully seseorang juga bukanlah sesuatu yang bisa diterima.


Facebook dan Instagram memiliki tombol “Report” atau “Laporkan”. Melaporkan konten ke Facebook atau Instagram dapat membantu agar kamu tetap aman di media sosial tersebut. Bullying dan pelecehan pada dasarnya bersifat sangat pribadi, jadi dalam banyak kasus, dibutuhkan seseorang untuk melaporkan perilaku ini kepada Facebook atau Instagram sebelum dapat dilihat dan dihapus oleh Facebook atau Instagram. 


Melaporkan kasus cyberbullying selalu bersifat anonim (identitas dirahasiakan) di Instagram dan Facebook, dan tidak ada yang akan tahu bahwa kamu lah pelapornya. 


Kamu dapat melaporkan sesuatu yang kamu alami sendiri, tetapi juga mudah untuk melaporkan sesuatu untuk temanmu menggunakan fitur yang tersedia di aplikasi. Informasi lebih lanjut tentang cara melaporkan sesuatu terdapat di Pusat Bantuan Instagram dan di Pusat Bantuan Facebook.


Kamu juga bisa memberi tahu temanmu tentang fitur di Instagram yang disebut Restrict atau Batasi, dimana kamu bisa secara diam-diam melindungi akunmu tanpa harus memblokir seseorang – yang mungkin kalau memblokir rasanya terlalu keras bagi beberapa orang.


Twitter: Ada panduan untuk melaporkan perilaku yang bersifat menghina yang artinya kamu bisa melaporkan orang lain untuk membela temanmu. Sekarang ini dapat dilakukan untuk melaporkan pencemaran informasi pribadi dan akun palsu juga.




6.     Menjelajah secara online memberi saya akses ke banyak informasi; tetapi itu juga berarti saya terbuka terhadap berbagai kemungkinan penyalahgunaan atau perilaku salah. Bagaimana kita menghentikan cyberbullying tanpa bermain internet? Apakah kita perlu berhenti saja mengakses internet atau media sosial?


UNICEF: Menjelajah secara online memberimu banyak manfaat. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, ada juga risiko yang perlu kita hindari.


Jika kamu mengalami cyberbullying, kamu mungkin ingin menghapus aplikasi tertentu atau mencoba offline selama beberapa lama agar kamu merasa pulih. Namun, berhenti mengakses internet bukanlah solusi jangka panjang. Kamu tidak salah, jadi kenapa kamu yang harus dirugikan? Bahkan mungkin ini dapat mengirim sinyal yang salah kepada pelaku bully, yaitu menerima perilaku mereka yang tidak pantas.


Kita semua ingin cyberbullying dihentikan, yang merupakan salah satu alasan pelaporan cyberbullying menjadi sangat penting. Tetapi menciptakan internet menjadi aman seperti yang kita inginkan tidak hanya sekedar mengungkap para pelaku bully tersebut satu per satu. Kita perlu berpikir apakah yang akan kita bagikan atau katakan dapat menyakiti orang lain. Kita harus baik terhadap satu sama lain secara online dan dalam kehidupan nyata. Semua terserah kita! Ayo saring sebelum sharing!


Facebook/Instagram: Menjaga Instagram dan Facebook menjadi tempat yang aman dan positif untuk mengekspresikan diri adalah penting – orang hanya akan merasa nyaman berbagi jika mereka merasa aman. Tapi, kita tahu bahwa cyberbullying bisa muncul dan menciptakan pengalaman negatif. Itulah sebabnya di Instagram dan Facebook, kita perlu melawan dan mencegah cyberbullying


Kita bisa melakukan ini dengan dua cara. Pertama, dengan menggunakan teknologi untuk mencegah orang mengalami dan melihat bullying. Misalnya, orang dapat mengaktifkan pengaturan saring komentar yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk otomatis menyaring dan menyembunyikan komentar bullying yang bertujuan untuk melecehkan atau membuat marah orang. 


Kedua, kita bisa berupaya mendorong perilaku dan interaksi positif dengan memberitahukan fitur untuk dapat digunakan di Facebook dan Instagram. Restrict atau Batasi adalah salah satu cara untuk membantumu secara diam-diam melindungi akun sambil tetap mengawasi pelaku bully.


Twitter: Karena ratusan juta orang berbagi ide di Twitter, tidak mengherankan kalau kita semua sering menghadapi perbedaan pendapat. Itulah salah satu manfaatnya karena kita semua bisa belajar dari perbedaan pendapat dan diskusi yang saling menghormati.


Tetapi kadang-kadang, setelah kamu mendengarkan seseorang untuk beberapa lama, kamu mungkin tidak mau mendengarnya lagi. Hak mereka untuk mengekspresikan pendapat bukan berarti kamu harus selalu mendengarkannya setiap saat.



7.     Bagaimana cara mencegah informasi pribadi saya disalahgunakan untuk dipermalukan atau dimanipulasi di media sosial? 

UNICEF: Berpikirlah dua kali sebelum memposting atau membagikan sesuatu secara online – karena postingan itu dapat tetap berada di internet selamanya dan dapat digunakan untuk membahayakan dirimu nanti. Jangan memberikan detail pribadi seperti alamat, nomor telepon, atau nama sekolahmu.

Pelajari tentang pengaturan privasi aplikasi media sosial favoritmu. Berikut adalah beberapa tindakan yang dapat kamu lakukan:

·       Kamu dapat memutuskan siapa saja yang dapat melihat profilmu, mengirimi pesan langsung atau mengomentari postinganmu dengan menyesuaikan pengaturan privasi akun kamu.

·       Kamu dapat melaporkan komentar, pesan, dan foto yang menyakitkan dan meminta media sosial tersebut untuk menghapusnya.

·       Selain ‘un-friend’ atau ‘un-follow’, kamu dapat memblokir seseorang untuk menghentikan mereka melihat profilmu atau menghubungimu.

·       Kamu juga dapat mengatur untuk dapat dikomentari oleh orang-orang tertentu saja tanpa harus benar-benar memblokir.

·       Kamu dapat menghapus postingan di profilmu atau menyembunyikannya dari orang-orang tertentu.


Di sebagian besar media sosial favoritmu, biasanya orang-orang tidak akan diberitahu saat kamu memblokir, membatasi komentar, atau melaporkan mereka.



8.     Apakah ada hukuman untuk cyberbullying?

UNICEF: Kebanyakan sekolah menanggapi bullying secara serius dan akan mengambil tindakan untuk melawannya. Jika kamu mengalami cyberbullying oleh siswa lain, laporkan ke pihak sekolahmu.


Orang-orang yang menjadi korban segala bentuk kekerasan, termasuk bullying dan cyberbullying, memiliki hak atas keadilan dan meminta pertanggungjawaban pelaku.


Hukum mengenai bullying, khususnya tentang cyberbullying, masih cukup baru dan masih belum ada dimana-mana.

Inilah sebabnya banyak negara masih bergantung pada Undang-Undang lain yang relevan, seperti hukum tentang pelecehan, untuk menghukum pelaku cyberbullying. Di Indonesia, belum ada aturan spesifik yang mengatur tentang cyberbullying, namun ada UU ITE dan juga mengatur ujaran kebencian.


Di negara-negara yang memiliki Undang-Undang khusus tentang cyberbullying, perilaku di dunia maya yang dengan sengaja menyebabkan tekanan secara emosional dipandang sebagai perilaku kriminal. Di beberapa negara ini, korban cyberbullying dapat mencari perlindungan, memutuskan komunikasi dari orang tertentu dan membatasi penggunaan alat elektronik yang digunakan oleh orang tersebut untuk melakukan cyberbullying, secara sementara atau secara permanen.


Namun, penting untuk diingat bahwa hukuman tidak selalu menjadi cara paling efektif untuk mengubah perilaku pembully. Akan lebih baik untuk fokus memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dan mengubah hubungan menjadi lebih positif.


Facebook/Instagram: Di Facebook, ada Standar Komunitas, dan di Instagram, ada Panduan Komunitas yang dapat diikuti oleh penggunanya. Jika ditemukan konten yang melanggar kebijakan ini, seperti kasus bullying atau pelecehan, maka akan dihapus. 


Jika menurutmu ada kesalahan dalam penghapusan konten, kamu juga bisa mengajukan banding atau protes. Di Instagram, pengajuan protes atas penghapusan konten atau akun dapat dilakukan melalui Pusat Bantuan. Di Facebook, kamu juga bisa mengajukan proses yang sama melalui Pusat Bantuan.




9.     Perusahaan internet/media sosial tampaknya tidak peduli dengan cyberbullying dan pelecehan. Apakah mereka sebenarnya bertanggung jawab?


UNICEF: Perusahaan internet semakin memperhatikan masalah bullying di dunia maya.


Banyak dari mereka memperkenalkan cara untuk mengatasinya dan melindungi pengguna mereka dengan lebih baik menggunakan fitur baru, panduan, dan cara untuk melaporkan penyalahgunaan secara online.


Tetapi memang benar bahwa dibutuhkan lebih banyak upaya dan cara. Banyak anak, remaja, dan orang muda mengalami cyberbullying setiap hari. Beberapa mengalami berbagai bentuk penyalahgunaan secara online. Beberapa bahkan telah mengakhiri hidup mereka sendiri sebagai jalan keluar.


Perusahaan teknologi memiliki tanggung jawab untuk melindungi penggunanya terutama anak-anak dan remaja.


Kita semua perlu menuntut pertanggungjawaban jika mereka tidak memenuhi tanggung jawab ini.  




10.  Apakah ada pedoman/sarana/fitur mengenai anti-cyberbullying untuk anak-anak atau orang muda?


UNICEF: Setiap media sosial menawarkan fitur yang berbeda-beda (lihat apa saja yang tersedia di bawah ini) yang memungkinkan kamu untuk membatasi siapa saja yang dapat mengomentari atau melihat postinganmu, atau siapa saja yang dapat terhubung secara otomatis sebagai teman, dan juga untuk melaporkan kasus-kasus bullying. Banyak dari fitur memiliki langkah-langkah sederhana untuk memblokir, mematikan (mute), atau melaporkan cyberbullying. Kami menyarankanmu untuk menjelajahinya dan melihatnya satu per satu.


Perusahaan media sosial juga menyediakan fitur dan panduan edukasi untuk anak-anak, orang tua, dan guru untuk belajar mengenai risiko dan cara-cara agar tetap aman saat online.


Juga, garis pertahanan pertama melawan cyberbullying adalah dirimu sendiri. Coba pikirkan tentang dimana cyberbullying dapat terjadi di sekitarmu dan cara apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu – dengan menyuarakan pentingnya isu ini, melaporkan bullying, membicarakannya dengan orang dewasa yang terpercaya atau dengan meningkatkan kesadaran akan masalah ini. Bahkan tindakan baik yang sederhana bisa sangat bermanfaat!


Jika kamu khawatir tentang keselamatanmu atau karena sesuatu yang telah terjadi padamu saat bermain internet, segera bicarakan dengan orang dewasa yang kamu percaya. Atau hubungi Telepon Pelayanan Sosial Anak (TePSA) di nomor telepon 1500 771, atau nomor handphone / Whatsapp 081238888002 dan kamu bisa ngobrol dengan konselor profesional yang ramah! Kamu bisa berbicara secara bebas, dan identitasmu bisa dirahasiakan ataupun diungkapkan agar dapat menerima pertolongan.


Facebook/Instagram: Ada sejumlah fitur atau cara untuk membantu menjaga keamanan anak dan remaja:


·       Kamu dapat mengabaikan semua pesan dari pembully atau gunakan fitur Restrict atau Batasi, dimana kamu bisa secara diam-diam melindungi akunmu tanpa diketahui oleh orang tersebut.

·       Kamu dapat mengaktifkan pengaturan saring komentar untuk postinganmu.

·       Kamu dapat mengubah pengaturan sehingga hanya orang yang kamu follow saja yang bisa mengirimkanmu pesan langsung.

·       Dan di Instagram, kamu akan diberikan peringatan jika memposting sesuatu yang mungkin melanggar batas, mendorongmu untuk mempertimbangkan kembali.


Untuk tips lebih lanjut tentang cara melindungi diri sendiri dan orang lain dari cyberbullying, lihat berbagai sumber bacaan di Facebook atau Instagram.  


Twitter: Jika orang-orang di Twitter menjengkelkan atau negatif, ada fitur yang dapat membantumu, dan daftar berikut memiliki link dengan instruksi cara menggunakannya. Panduan “Menggunakan Twitter” memiliki instruksi-instruksi di bawah ini dan masih banyak lagi. 


·       Mute atau Membisukan – menghapus Tweet sebuah akun dari timeline kamu tanpa unfollowing atau memblokir akun itu

·       Memblokirmembatasi akun tertentu agar tidak bisa menghubungi kamu, melihat Tweet kamu, dan juga tidak bisa mem-follow kamu

·       Melaporkanmengajukan laporan terhadap perilaku yang kasar atau menghina



Kontribusi para pakar dari: Sonia Livingstone, OBE, Professor Social Psychology, Department of Media and Communications, London School of Economics; Professor Amanda Third, Professorial Research Fellow, Institute for Culture and Society, Western Sydney University.


Terima kasih secara khusus kepada: Facebook, Instagram, dan Twitter.


Kontribusi UNICEF: Mercy Agbai, Stephen Blight, Anjan Bose, Alix Cabral, Rocio Aznar Daban, Siobhan Devine, Emma Ferguson, Nicole Foster, Nelson Leoni, Supreet Mahanti, Clarice Da Silva e Paula, Michael Sidwell, Daniel Kardefelt Winther.


Terjemahan dan adaptasi ke Bahasa Indonesia: Derry Ulum, UNICEF Indonesia


Sumber Referensi












See by the numbers how we are engaging youth voices for positive social change.