Opinions Cerita Tentang Kami Engagement Join Now
STORY
Anak-anak mengambil alih Gugus Tugas COVID-19 pada Hari Anak Nasional

Ketika sekolah-sekolah ditutup pada awal bulan Maret untuk mencegah penyebaran COVID-19, Janish, seorang pelajar kelas 8, merasakan sulitnya beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Berasal dari salah satu desa terpencil di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Janish dan keluarganya adalah satu dari ribuan keluarga lain di seluruh Indonesia dengan akses internet yang amat terbatas atau sama sekali tidak ada. Interaksi dengan para guru bagi pelajar seperti Janish pun terhambat.

Meski frustrasi, Janish yang pantang menyerah memutuskan menulis surat kepada presiden. Di dalam suratnya, ia menceritakan tantangan yang dirasakan olehnya dan banyak anak lain selama pandemi. Janish menutup surat dengan mengungkapkan permohonan bantuan, seperti akses internet agar anak-anak dapat belajar di rumah, peningkatan mutu pendidikan, dan dukungan untuk layanan perlindungan anak.

Pada tanggal 23 Juli, bertempat di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta dan bertepatan dengan Hari Anak Nasional, surat Janish dibacakan di hadapan khalayak oleh I Gusti Atu Bintang Darmati, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Arista, pelajar SMA Muhammadiyah 11 Rawamangun, dan dr Reisa Broto Asmoro bertindak sebagai moderator pada sesi diskusi yang diisi oleh perwakilan anak dari seluruh Indonesia. Mereka berbagi kiat menjaga keselamatan, kesehatan, dan semangat selama berada di rumah.

Pandemi COVID-19 tak dapat dipungkiri telah mengganggu kehidupan sehari-hari anak-anak muda di Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang merasa tertekan dan khawatir tentang masa depannya. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2020, UNICEF, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan BNPB menyelenggarakan kegiatan bagi anak dan remaja. Dalam kegiatan ini, para peserta diizinkan mengambil alih Gugus Tugas COVID-19 dan menyuarakan perasaan dan aspirasi mereka kepada para pengambil keputusan secara langsung.

Sejalan dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kegiatan tersebut, diadakan secara virtual dan disiarkan secara langsung di televisi, radio, dan YouTube. Sebanyak sekitar 750 anak dari 34 provinsi ikut serta melalui platform Zoom.

“Hari Anak Nasional pada tahun ini adalah peristiwa istimewa karena anak-anak di seluruh Indonesia merayakannya di rumah bersama orang tua dan pengasuh, saudara, dan teman-teman, sambil tetap memperhatikan aturan pembatasan sosial,” kata Dery Ulum, UNICEF Indonesia Child Protection Officer. “UNICEF, pemerintah, dan para mitra ingin melanjutkan kegiatan seperti ini untuk menunjukkan semangat dan komitmen kami kepada anak-anak Indonesia serta menyediakan ruang bagi anak-anak mengemukakan pendapatnya. Masih ada banyak hal yang harus kami lakukan untuk anak, tetapi tak sedikit pula kemajuan yang telah dicapai dan patut dirayakan.”

Selama satu hari, para peserta membahas tantangan yang mereka temui selama harus berada di rumah dan harapan mereka untuk masa depan. Ada pula sejumlah pembicara, termasuk perwakilan anak, dr Reisa Broto Asmoro, dan anggota Gugus Tugas COVID-19. Mereka berbicara tentang dampak pandemi terhadap anak, khususnya dari aspek kesehatan, pendidikan, perlindungan, dan pengasuhan.

“Pandemi COVID-19 yang dialami Indonesia saat ini memiliki dampak yang amat luas. Salah satu isu yang sangat penting adalah perlindungan anak dengan disabilitas usia antara 5 dan 17 tahun,” ujar Adrian, seorang anak dengan disabilitas. “Banyak sekolah yang ditutup, tetapi saya berharap, melalui adaptasi dengan kebiasaan baru, hak-hak anak masih bisa dipenuhi dan anak dilindungi dari berbagai ancaman agar kami bisa menikmati kehidupan kami.

Quincy, 6, turut serta dalam jumpa pers tentang kesehatan anak di masa pandemi sebagai bagian dari perayaan Hari Anak Nasional.


Nabila (kiri), 12, bertindak sebagai juru bahasa isyarat pada sesi tentang informasi kesehatan dalam konteks wabah COVID-19.

Ada begitu banyak anak yang berjuang menghadapi situasi pandemi; para peserta pun saing berbagi kiat untuk menjaga keselamatan diri, rasa nyaman, dan semangat.

“Supaya tetap bersemangat, saya suka menari dan selalu bergerak,” kata Devara, 12 tahun, asal Sulawesi Selatan, melalui video daring. “Saya percaya bahwa dengan tetap aktif dan berolah raga, kita bisa menguatkan sistem imunitas tubuh.”

Sebagai bagian dari kegiatan di atas, 663 U-Reporter mengajukan pertanyaan yang dijawab dalam dua sesi terpisah, yaitu mengenai suara anak dan perlindungan anak selama pandemi. Pejabat pemerintah, termasuk Menteri Bintang dan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta, seperti hak-hak anak dan mengapa anak tidak dapat pergi ke sekolah untuk saat ini.

Pada hari kegiatan berlangsung, Janish, sang penulis surat, bangun mendahului matahari. Pada pukul 4 pagi, ia mulai berjalan kaki selama tiga jam dari desanya ke Kabupaten Sumba agar bisa berpartisipasi dalam acara di atas melalui Zoom. Setelah membacakan surat Janish, Menteri Bintang menyampaikan simpatinya atas tantangan yang dialami anak-anak seperti Janish dan berjanji akan berusaha lebih keras untuk mendukung mereka. Usai bercakap-cakap dengan menteri, Janish menyatakan ia optimis bahwa permasalahannya telah didengar.


“Saya senang sekali,” ujar Janish. “Saya, keluarga, dan lingkungan saya berharap menteri dan presiden peduli terhadap kami dan mau melakukan sesuatu untuk anak-anak di tengah situasi pandemi ini.”

See by the numbers how we are engaging youth voices for positive social change.
EXPLORE ENGAGEMENT